9. Melakukan investigasi terhadap pengangkutan, pemrosesan dan perdagangan

Jejak dokumen

Ketika kayu bergerak dari tempat pemanenan menuju titik ekspor, kayu harus didampingi oleh dokumen-dokumen yang menunjukkan sumbernya. Cakupan dan kompleksitas sistem ‘lacak balak’ resmi ini berbeda-beda antar negara. Di Brazil, misalnya, ada database elektronik mengenai ‘kredit’ yang dipertukarkan dari produsen dan seterusnya melalui rantai pasok. Di negara-negara lain, sistem tersebut sudah ada sebagian besar dalam dokumen cetak, dan kemungkinan tidak akan melalui proses sekunder. Menganalisa data ini bisa memberikan bukti pelanggaran melalui rantai pasok, dan juga memungkinkan mengungkap hubungan antara kayu yang dipanen secara ilegal hingga diekspor.

Di Brazil, misalnya, Greenpeace dapat mengidentifikasi pabrik-pabrik penggergajian yang membeli kayu yang ditanggung oleh kredit dari wilayah-wilayah dimana ditemukan berbagai pelanggaran. Dari pabrik-pabrik penggergajian tersebut mereka mampu mengidentifikasi perusahaan-perusahaan yang menjual kayu ke pasar ekspor [lihat Studi Kasus 8].

Di Indonesia, hubungan antara panen dan pabrik penggergajian dijelaskan dalam rencana bahan mentah yang disusun oleh pabrik-pabrik penggergajian. Catatan tersebut, setiap tahunnya, merupakan rencana sumber perusahaan-perusahaan pemrosesan kayu yang akan digunakan selama setahun ke depan, dan secara otomatis memperhitungkan basis pasokan selama tahun yang sebelumnya. Dokumen ini mencatat perusahaan berdasarkan namanya, yang kemungkinan menyertakan wilayah-wilayah konsesi dimana pelanggaran-pelanggaran operasional maupun bentuk-bentuk lain penebangan liar telah teridentifikasi. Dari pabrik penggergajian, kayu tersebut bisa berpotensi dilacak ke pasar melalui beberapa cara, termasuk pertemuan rahasia, atau penelusuran mundur yang diawali di pasar (lihat beberapa bab setelah ini). Akses terhadap data ini bisa diperbaiki dengan signifikan oleh kasus yang dimenangkan oleh LSM Forest Watch Indonesia melawan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, dibawah UU Keterbukaan Informasi Publik [lihat Tool Box: keterbukaan informasi].

Izin Ekspor CITES, yang bisa diakses, menyediakan aliran sumber informasi yang bermanfaat lainnya, karena informasi tersebut diterbitkan oleh para eksportir. Dalam suatu contoh, Izin Ekspor CITES dari Peru yang di referensi silang dengan laporan-laporan penegakan hukum resmi pemerintah, telah memungkinkan pengidentifikasian lebih dari 100 ekspor yang terkait dengan hutan, dimana terjadi kegiatan pelanggaran hukum yang serius [lihat Studi Kasus 6].

Potensi untuk mereplikasi investigasi-investigasi yang seperti ini akan tergantung pada ketersediaan berbagai dataset yang berbeda, aksesibilitas dan keterandalan data set tersebut. Beberapa investigasi di Brazil dan Peru mendemonstrasikan bahwa pelanggaran hukum yang rumit pada sumber pasokan, pencucian dan rantai pasok yang tidak jelas bisa terhubung melalui ekspor jika datanya tersedia.

Investigasi Lapangan melalui observasi

Di beberapa negara dimana data tidak tersedia, memiliki kualitas yang buruk atau tersembunyi di balik dinding birokrasi, beberapa bagian rantai pasok bisa terlihat melalui observasi langsung. Melacak kayu gelondongan dari berbagai sumber di sepanjang rantai secara logistic sulit terjangkau, atau tidak mungkin dilakukan. Meskiupun demikian, penandaan kayu [lihat Tool Box: Penandaan Kayu] bisa membantu mengidentifikasi sumber kayu di hilir, bahkan sejauh pasar-pasar di benua-benua yang berbeda.

EIA telah mengidentifikasi kayu yang dipasok dari militer Vietnam di sepanjang rantai pasok, dari hutan-hutan di Laos sampai dengan pemeriksaan di perbatasan dan lebih jauh lagi, dengan menggunakan label yang unik. Metode yang sama bisa digunakan di negara-negara yang berbeda, asalkan perusahaan-perusahaan dan para petugas memanfaatkan penandaan-penandaan individu yang secara legal diwajibkan, dan para investigator bisa mengartikannya.

Metodologi ini bisa digunakan ketika berbagai investigasi dimulai pada tahap ini dan lebih ditujukan untuk mengidentifikasi berbagai pelanggaran pengangkutan dan pelanggaran ekspor, ketimbang tindakan pelanggaran hukum yang dilakukan pada titik pemanenan. Misalnya, EIA telah mendokumentasikan dan menyoroti pelanggaran-pelanggaran terhadap berbagai ketentuan ekspor kayu melalui wilayah utara Myanmar yang berbatasan dengan Cina, tanpa menelusuri kayu tersebut kembali ke titik pemanenan [lihat Studi Kasus 7].

Para investigator bisa juga memperoleh informasi dari para sopir truk kayu atau orang-orang yang tinggal atau bekerja di sepanjang rute pengangkutan kayu. Percakapan-percakapan yang sedemikian harus dilakukan dengan hati-hati, namun bisa membantu menentukan dari mana kayu berasal, atau kemana perginya. Para pekerja junior juga bisa didekati di tempat-tempat penebangan, pondok atau restoran. Jika hal ini dilakukan, merupakan hal yang penting untuk punya cerita samaran yang masuk akal untuk memberikan pembenaran akan kehadiran investigator di wilayah tersebut dan ketertarikan mereka terhadap kegiatan-kegiatan penebangan. Jika para investigator bertindak sebagai turis, merupakan hal yang masuk akal jika mereka mengajukan pertanyaan-pertanyaan karena pada umumnya penasaran, meskipun pertanyaan-pertanyaan tersebut tidak bisa terlalu rinci atau memancing. Jika para investigator adalah dan bisa dianggap sebagai orang lokal, mereka bisa berpura-pura ingin bekerja dengan perusahaan penebangan atau pengangkutan, sehingga bisa dimaklumi jika mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang memancing.

Seharusnya keputusan untuk melakukan percakapan-percakapan atau interaksi-interaksi yang sedemikian bisa ditentukan sebelum melakukan perjalanan, tergantung rencana perjalanan dan sifat investigasi. Keputusan-keputusan mengenai bagaimana hal ini akan dilakukan harus dimasukkan ke dalam perencanaan pra-perjalanan [lihat Boks: Mengurangi berbagai resiko dalam investigasi lapangan]. Keinginan mungkin muncul untuk merekam percakapan-percakapan tersebut secara tersembunyi, jika tersedia peralatan yang bisa membuat hal ini aman [lihat Tool Box: Merekam bukti secara tersembunyi].

Bahkan ketika investigasi jejak dokumen telah menghasilkan bukti jelas tindakan pelanggaran hukum dan menunjukkan hubungan antara rantai pasok, investigasi melalui observasi lapangan dapat memberikan informasi lebih jauh. Investigasi yang seperti ini hendaknya dipandang sebagai tahap kedua dari investigasi lapangan yang diidentifikasi dalam Bagian 7, dengan melakukan berbagai persiapan, pendekatan dan pengurangan resiko yang serupa [lihat Resiko: Mengurangi berbagai resiko dalam investigasi lapangan].

Cara ini terutama bisa efektif ketika rantai pasok kayu terkonsolidasi, dimana perusahaan-perusahaan yang sama yang terlibat dalam penebangan, juga menjual kayu langsung ke pasar ekspor. Hal ini bisa dilihat di Republik Demokratik Kongo, misalnya, dimana Greenpeace telah mengidentifikasi perusahaan-perusahaan yang terlibat dalam penebangan liar menjual kayu-kayu gelondongan dan kayu gergajian langsung ke negara-negara di Eropa dan AS. Disana keterkaitannya dengan pasar bisa terlihat setelah menggunakan metode-metode tersembunyi dan menginterogasi data perdagangan [lihat Bagian 10], meskipun investigasi lapangan melalui observasi di pelabuhan-pelabuhan bisa memberikan petunjuk untuk mendampingi tahap-tahap selanjutnya ini dalam investigasi tersebut.

Investigasi rahasia

Investigasi rahasia, atau samaran, terbukti merupakan metode yang paling efektif pada tahap ini dalam rantai pasok. Penyamaran sebagai pedagang kayu telah dimanfaatkan, hingga menghasilkan dampak yang signifikan, oleh Global Witness, EIA, Earthsight dan lainnya selama 20 tahun belakangan. Kegiatan tersebut telah menghasilkan informasi yang membongkar sisi internal korupsi dan suatu wawasan yang belum pernah ada sebelumnya mengenai karakteristik perdagangan ilegal.

Meskipun demikian, melakukan rapat tatap muka formal dan kunjungan-kunjungan perusahaan melalui penyamaran membutuhkan pengetahuan, keterampilan dan pengalaman yang signifikan dan memiliki resiko yang signifikan. Hasilnya, investigasi rahasia yang canggih ini sebaiknya tidak dilakukan tanpa pelatihan dari para ahli. Meskipun demikian, ketika dilakukan secara jarak jauh melalui telepon atau email, metode-metode penyamaran bisa digunakan dengan aman tanpa pelatihan khusus. Pada tahun 2010, misalnya, penelitian samaran lewat telpon telah membantu menunjukkan hubungan pemasok antara Indonesia dan Inggris Raya [lihat Studi Kasus 11].

Pada tahap ini dalam suatu investigasi, profil perusahaan manapun yang ingin diteliti perlu dikembangkan, termasuk detail kontak [Lihat Pustaka: Membangun profil perusahaan]. Ketika hal ini telah diperoleh, para investigator bisa dengan aman melakukan pendekatan tersembunyi jarak jauh (melalui telepon atau email). Para investigator bisa memilih untuk menyamar sebagai calon pembeli atau penjual kayu, sebagai seorang jurnalis atau sebagai seorang peneliti akademis. Penelitian yang menyeluruh merupakan hal yang penting ketika memilih dan menginformasikan cerita samaran [lihat Pustaka: Mengembangkan cerita samaran untuk digunakan dalam investigasi rahasia].

Berikut ini merupakan beberapa jenis informasi yang seringkali bisa diperoleh melalui pendekatan terhadap perusahaan dengan cara ini:

  • Spesies yang mereka gunakan.
  • Produk-produk apa yang mereka jual.
  • Volume produk-produk yang mereka jual.
  • Sumber kayu yang dimanfaatkan dalam produk-produk mereka.
  • Kepada siapa atau ke negara/wilayah mana mereka menjual produk-produk mereka.
  • Sejauh mana rantai pasok mereka terintegrasi. Misalnya, apakah mereka terlibat dalam pemanenan di hulu, dan/atau ekspor di hilir.

Berbagai langkah harus diambil untuk memastikan bahwa identitas asli investigator tidak dapat dilacak. Mereka tidak boleh menggunakan nama asli, alamat email pribadi, dan data yang diperoleh melalui cara-cara ini harus dimasukkan ke dalam katalog yang baik untuk digunakan sebagai referensi ke depan. Untuk metode-metode yang bisa digunakan untuk merekam interaksi rahasia, lihat Pustaka: Merekam bukti secara diam-diam.